RSS

CUNTAKA

A. Pengertian Cuntaka
Istilah cuntaka mengandung suatu pengertian mengenai suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu. Kata cuntaka berasal dari bahasa Jawa Kuno (bahasa Kawi) yang artinya suatu keadaan tidak suci akibat dari suatu kematian. Berdasarkan atas pengertian tersebut, berarti setiap kematian akan dapat menyebabkan keadaan cuntaka. Kematian yang dimaksud dalam pengertian ini adalah akibat kematian manusia. Sedangkan kematian bagi makhluk lain tidaklah menyebabkan cuntaka.
Di dalam lontar Çiwa Çasana ada disebutkan istilah “cuntaka janma” yang berarti orang hina dalam kehidupannya. Orang yang dipandang cuntaka janma di dalam lontar Çiwa Çasana adalah orang yang dijadikan korban, orang yang diserahkan pada waktu upacara Sawa Wedhana atau dalam upacara Asti. Dari sumber ini membawa pengertian bahwa cuntaka mengandung pengertian yang cukup luas meliputi keadaan yang abstrak dan relatif, karena masalah hina dan jelek serta kotor (cemer) adalah masalah nilai yang tidak sama pada masing – masing orang.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AGAMA HINDU

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AGAMA HINDU


A.    Perkembangan Hindu di India
Pada mulanya Agama Hindu muncul di lembah sungai Sindhu di India sebelah barat, tepatnya di Punyab,  yaitu hulu sungai Sindhu yang bercabang lima. Menurut pendapat Tilak, Wahyu Tuhan yang pertama telah diturunkan pada tahun 6000 SM.
Sumber pokok ialah  kitab-kitab suci Hindu yang terhimpun dalam Weda Sruti, Smerti, Itihasa, Upanisad dan sebagainya. Filsafat maupun kebudayaan yang tumbuh di India bersifat religius dalam arti bernafaskan keagamaan dan agama Hindu merupakan sumber kekuatan rohani yang menjiwainya.
 Perkembangan agama Hindu dapat di ketahui dari kitab-kitab suci agama Hindu yang terhimpun dan Veda Sruti, Veda Smrti, Itihasa, Upanisad dan sebagainya. Perkembangan agama Hindu di India, berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang yaitu berabad-abad hingga sekarang. Perkembangan Hindu di India oleh Radhakrisnan dibagi menjadi 4 (empat) periode. Keempat periode tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 

SMA NEGERI 1 SUKAWATI ANGKATAN 2010

Mumpung fotonya ketemu, aku upload aja, supaya bisa dilihat oleh orang-orang di seluruh dunia hahhahaaaaaa :D tahun 2010 menjadi siswa baru di SMA NEGERI 1 SUKAWATI. kemudian tahun 2013 kami lulus 100% dan menjalani kehidupan sesuai pilihan masing-masing. Kami terpisah ke berbagai PTN, PTS atau sejenisnya. Ini untuk kenangan kita bersama :)











Lomba Conetto

Tanpa sengaja saat merapikan dokumen aku menemukan file ini :) 
Dulu aku sering ke warnet untuk memcari tugas ataupun mendownload korean drama. Nah disanalah aku bersama pacarku mencari berita ataupun main game online. Trus ada iklan conetto yang katanya klo ikut bisa dapat iphone. Nah aku juga ikutan hahhahaaaa :) dan inilah tulisanku dulu :D
walau ga menang ga apa. Yang penting aku selalu bersamanya. 

3Feb2013
Aku tdk prnh serius dgn yg namanya cowok,krn bagiku cowok itu ga penting.Hingga saat aku memutuskan pacarku aku merasa kehilangan.Sedih iya menyesal iya.Ingin minta maaf tp baru aku sadar Hpku hilang.Aku sgr pergi ke sekolah untuk mencarinya.Di skolah aku brtemu dia.Aku sgr kabur tp ia pegang tanganku kmdian pergi.Aku buka trnyta itu Hpku dan scarik krtas."Jalan 20 lngkah ke utara 6 lngkah ke timur"dan aku melihatnya tersenyum padaku sambil memberikanku Cornetto"ini untuk hari jadi kita" 20juni


Manfaat Seni Kegamaan Hindu dalam Pembentukan Kepribadian

PENDAHULUAN

Keberadaan seni tari keagamaan pada umumnya selalu dikaitkan dengan upacara keagamaan karena tarian ini hanya difungsikan untuk itu. Para pendukung tari keagamaan pada umumnya tidak berani mengubah dan meninggalkan tarian keagamaan itu begitu saja. Pementasan tari keagamaan dipergunakan sebagai media persembahan dan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pementasan tari sakral keagamaan tidak boleh dibawakan oleh sembarang orang, melainkan dipilih dengan ketentuan sebagai berikut:
a)      Hendaklah para penarinya masih gadis.
b)      Jika mereka telah berkeluarga atau berumahtangga, hendaklah mereka telah mencapai menopause. Artinya, tidak mengalami datang bulan (haid) lagi.
c)      Para penarinya membawa sarana upacara, seperti Canang Sari, Pasepan, Sampian, Salaran, dan lain sebagainya.
d)     Gerak pada tari sakral sangat sederhana, mengikuti gerak alam, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, peredaran matahari, dan lain sebagainya.
e)      Ada suasana mistik, magis, dan religius. Misalnya, pada Tari Sanghyang. Penarinya terjun kedalam api unggun, namun ia tidak terbakar.
f)       Tari sakral biasanya diperagakan secara kolektif. Tarian sakral dapat menggugah emosional keagamaan.
Secara mitologi dikisahkan bahwa Dewa Sivanataraja dalam menggerakkan alam semesta ini, beliau dikatakan menari.
            Lukisan tentang gerak seni tari tertata pada monumen atau candi-candi yang ada di Indonesia, seperti di candi Prambanan, Borobudur, Kalasan, Sewu, Plawosan, candi Sari, dan candi Sukuh. Para penari dilukiskan sebagai makhluk kahyangan yang disebut Gendarwa dan Apsari. Tarian keagamaan yang melukiskannya adalah tari Rejang, tari Pendet, dan tari Topeng Sidhakarya.
            Mengenai seni tari dalam perkembangannya dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu tari Wali, tari Bebali, dan tari Balih-balihan.

ASTIKA DAN NASTIKA (FILSAFAT HINDU)

ASTIKA DAN NASTIKA

ASTIKA
Sistem filsafat Hindu yang tergolong pada klasifikasi Astika adalah sistem atau aliran yang percaya pada kesucian Weda (Autority of the Veda). Menurut klasifikasi ini ada enam aliran yang disebut dengan Sad Darsana (Sad = enam, Darsana = Pandangan, filsafat). Yang termasuk Astika adalah Samkhya, Yoga, Niaya, Waisasika, Mimamsa dan Wedanta.
Dalam pengertian lain selain percaya kepada kesucian Weda, percaya pula pada reinkarnasi (kelahiran kembali) maka yang tergolong Astika tidak hanya enam aliran filsafat tadi termasuk aliran Buddha dan Jaina. Namun yang umum disebut Astika adalah Sad Darsana tadi.
Filsafat Samkhya
Perkataan Samkhya terjadi dari dua kata yaitu sam dan khya, sam artinya bersama-sama dan khya berarti bilangan. Samkhya berarti bilangan bersama-sama atau susunan berukuran bilangan. Dalam Samkhya bilangan mempunyai fungsi-fungsi penting, sebagaimana peranan bilangan pada filsafat Yunani. Walaupun ada juga bilangan yang tidak termasuk ukuran bilangan dalam Samkhya. Inti pembahasan filsafat Samkhya adalah penciptaan alam semesta dengan segala isinya 25 satwa.

WEDA SEBAGAI SUMBER DAN KITAB SUCI HINDU

Weda Sebagai Sumber dan Kitab Suci Hindu

A.  Pengertian Weda
Wahyu yang diturunkan oleh Hyang Widhi melalui para Rsi, dikumpulkan atau dihimpun menjadi suatu kitab suci. Kitab suci yang diyakini sebagai wahyu yang diturunkan oleh Hyang Widhi disebut Weda. Kata Weda dapat dikaji melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan etimologi  (akar katanya) dan berdasarkan semantic (pengertiannya). Weda sebagai wahyu yang diturunkan Agama Hindu, secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, dari akar kata "Wid" yang berarti mengetahui atau pengetahuan. Dari kata Weda yang ditulis dengan huruf A (panjang) berarti pengetahuan kebenaran sejati atau kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu yang dijadikan sumber ajaran Agama Hindu. Secara semantic Weda berarti kitab suci yang mengandung kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci bagi umat Hindu. Maharsi Sanaya mengatakan bahwa Weda adalah wahyu Tuhan Yang Maha Esa yang mengandung ajaran yang luhur untuk kesempurnaan umat manusia serta menghindarkannya dari perbuatan jahat.
Weda adalah ilmu pengetahuan suci yang maha sempurna berasal dari Sang Hyang Widhi yang didengarkan oleh Para Maha Rsi melalui pawisik (wahyu), sehingga weda disebut Sruti yang berarti Sabda Suci atau pawisik yang didengarkan sehingga weda itu sebagian besar adalah nyanyian-nyanyian dari Hyang Widhi yang berbentuk puisi, dalam Weda disebut Chandra. Orang yang menghayati dan mengamalkan Weda akan mendapatkan kerahayuan atau ketenangan lahir batin. Winternitz dalam bukunya A History of Indian Literature, volume I (1927) menyatakan bahwa kitab suci Weda adalah monument dan susastra tertua di dunia. Ia menyatakan bila kita ingin mengerti permulaan dari kebudayaan kita yang tertua, kita harus melihat Rg Weda sebagai susastra tertua yang masih terpelihara. Sebab pendapat apapun yang kita miliki mengenai susastra maka dapat dikatakan bahwa Weda adalah susastra timur tertua dan bersama dengan itu merupakan monument susastra dunia tertua. Demikian pula Bloomfield dalam bukunya The Religion of Weda (1908) menyatakan bahwa Rg Weda bukan saja monument tertua tetapi juga dokumen di timur yang paling tua.