RSS

HUBUNGAN I GEDE MECALING DENGAN TARI REJANG SUTRI DI BATUAN



I Gede Mecaling sangat senang melakukan tapa brata yoga semadhi di Ped, pengastawaanya ditujukan kepada Ida Bhatara Ciwa dan karena ketekunannya Ida Bhatara Ciwa berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan berupa Kanda Sanga. Kemudian, setelah mendapat panugrahan kanda sanga fisik I Gede Mecaling menjadi berubah. Badannya menjadi besar, mukanya menjadi menyeramkan, taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan seisi jagat raya. Sedemikian hebat dan sangat menyeramkan, maka seketika itu juga jagat raya menjadi guncang. Kegaduhan, ketakutan, kengerian yang disebabkan oleh rupa, bentuk dan suara yang meraung-raung siang dan malam dari I Gede Mecaling membuat gempar di mercapada.

Melihat dan mendengar yang demikian, para dewa pun ikut menjadi bingung karena tidak ada satu orang pun yang bisa menandingi kesaktian I Gede Mecaling. Bahkan sesungguhnya para dewa tidak ada yang bisa menandingi, tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian I Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya yang telah dianugrahkan oleh Ida Bhatara Ciwa. Akhirnya turunlah Ida Bhatara Indra untuk berusaha memotong taring I Gede Mecaling. Setelah taring I Gede Mecaling berhasil dipotong barulah I Gede Mecaling berhenti menggemparkan jagat raya. Setelah itu I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semadhi, pengastawanya di tujukan kepada Ida Bhatara Rudra dan Ida Bhatara Rudra pun berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling berupa panca taksu, yaitu:
1. Taksu balian
2. Taksu penolak grubug
3. Taksu kemeranan
4. Taksu kesaktian
5. Taksu penggeger

I Gede Mecaling menjadi raja setelah Dalem Sawang wafat karena berperang dengan Dalem Dukut. Dengan demikian I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. Juga pada akhirnya I Gede Mecaling diberi wewenang oleh Ida Bhatari Durga untuk mencabut nyawa manusia yang ada di bumi.
Beberapa waktu sebelumnya, sebelum I Gede Mecaling tinggal di Nusa Penida telah terjadi peperangan antara I Gede Mecaling dengan Dewa Babi (patih) di Batuan. I Gede Mecaling yang tinggal di Banjar Jungut sering membuat keonaran dan mengajak berperang. Kemudian Gusti Agung Blambangan Mengwi datang ke Semarapura untuk memohon putra raja yang akan ditempatkan di Desa Timbul, dengan gelar Ida Sri Aji Wijaya Taur Gahana Pangkaja. Lebih kurang 6,5 tahun di Batuan ada patihnya bernama Dewa Babi, Dewa Meranggi, dan Gusti Ngurah Batu Lepang.
 Dari keempat orang tersebut membuat suatu kesepakatan dengan tujuan mengusir Ida Gede Mecaling melalui sarana babi guling yang diikat dengan benang tridatu melawan tali kupas yang mana lebih cepat terbakar. Menurut  I Gede Mecaling yang lebih cepat terbakar adalah tali kupas dan Patih Dewa Babi mengatakan benang tridatu yang paling cepat terbakar. Akhirnya  benang tridatu yang paling cepat terbakar. Kekalahan ada pada Gede Mecaling. Kesepakatan yang pernah mereka buat berbunyi, “Siapa yang kalah agar meninggalkan Desa Batuan”. Ternyata I Gede Mecaling kalah dan meninggalkan Desa Batuan menuju ke Nusa Penida.Akhirnya Gede Mecaling diusir dari Desa Batuan dengan mengadakan perjanjian. Setiap sasih keenam akan datang untuk mengambil salah satu anggota masyarakat Desa Batuan sebagai balasannya. Untuk memperlambat permintaan atau gerakan rerencang atau utusan Ida Gede Mecaling maka setiap menjelang sasih kelima dibuat tari rejang untuk menyambut kedatangan rerencang dari I Gede Mecaling (Nusa Penida). Tari Rejang Sutri muncul setelah meninggalnya Balian Batur di desa Rangkan. Tarian ini disamping untuk menangkal kedatangan rerencang I Gede Mecaling juga bertujuan untuk mengabdikan diri terhadap Bhatara Bhatari atau leluhur. Tari ini dinamakan Tari Rejang Sutri karena gerak tarinya sangat lemah lembut, polos dan lemah gemulai yang dilakukan oleh kaum wanita dari golongan remaja sampai golongan wanita tua dengan iringan gambelan gong lengkap dengan tabuh lelambatan.Tarian ini sampai sekarang masih tetap dilestarikan.
Selain itu, konon kata para leluhur yang ada di Desa Batuan, jika ada orang-orang Batuan yang berkunjung ke Nusa Penida maka disana orang-orang Batuan tersebut tidak boleh mengaku dari Batuan melainkan mengaku dari Sukawati, Gianyar ataupun daerah lain. Karena jika mengaku dari Batuan, maka pada malam harinya isi perut orang-orang Batuan akan diganti dengan sabut kelapa dan mengakibatkan orang-orang Batuan tersebut meninggal.
Sumber: dari berbagai sumber

0 comments:

Posting Komentar